Rabu, 11 Februari 2015

Waktu Kian Berdebu

Waktu kian berdebu, kendara keliru dalam deru seakan penghujung tak lagi dalam hitung tak sadar roda kian menggulung tetap di sarung dengan dada membusung.

Keras arus lintas beserta para selaras sampai tuntas melaju berseru bak peluru yang siap memburu yang tak selaku, ah, kau tau itu.




Tempel- menempel sebagai syarat berlabel jalankan tradisi mengapel, ya, biar tak ngomel, para loyal muka tebal siap kawal  jagal bahkan sial dalam hal pembagian ruang mal yang dirasa kekal dan untuk urusan royal- meroyal bukan ganjal.

Tangan di atas altar siap membakar siapa saja terkabar kelakar dari sang loyal, jangna tanyakan soal negosiasi ketika sang loyal berdeklamasi puisi di samping altar dengan tangan, entah itu kiri atau kanan, dan akhirnya tinggal eksekusi dan senyuman, kasian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar