Jumat, 13 Februari 2015

Narasi Awalan

Sekelap mata di jumpa, ditemui hamparan taman milik berdua dengan pesona membuncah telah patah di entah- berentah kisah
Kini kau coba memasang linglung parah, terserah, namun jiwa memberontak melawan lupa di otak dengan sedemikian gairah tak retak, seakan sempurnalah tata letak

Dalam unik segi intrinsik dia pancarkan daya tarik menggebu ciptakan ilusi di tiap sisi tak sementara dalam waktu cukup lama
Semaikan hipnotis statis lewati prisma pendarkan jutaan warna eksotis, hingga bila kau amati lekat- lekat akan kau temui sebilah keris, hm, strategis

Kamis, 12 Februari 2015

Belenggu

Dalam jeruji lampau kau di situ

Hanya karena satu masa itu

Kau jalani waktu ini dalam rantai ikatan yang mengikat
Kau tak bisa membuka, itu bagimu sangat erat

Prasasti bagimu mungkin sudah terukir, jalani waktu ini dengan sedemikan bergulir
Dan meski tetesan air dari sudut gelap mata kadang mengalir

Bila harap memudar karena sang harapan biaskan rasa bakar
Kau coba tetap dalam tumpuan tegar, dan harap ia kembali di atas dasar sadar

Hanya karena satu masa itu

Kau tenggelam dalam jalinan ikatan bertahan meski rasa sakit tak tertahan, kasian.

Raut Baru

Raut baru dalam pahatan di era zaman setelah beberapa kali pembinasaan

Sebagian...

Raut baru membesar dalam dekapan era mutakhir, berada di tepi arsiran masa bergulir

Bernapas ribuan tahun demikian sebuah angan, atau bahkan tak ada acara penanaman atau pembakaran, tenggelam dalam kidung, mau tak mau persiapan raut baru meski masih di dalam kandung

Mahligai sedapat- dapat meningkat atau bertingkat, ya, bahkan sampai empat, untuk sebuah ide para pendapat kisaran derajat. Soal warna cat, sebagus- bagusnya harus dapat

Rabu, 11 Februari 2015

Fatamorgana

Taklid buta merasuk dalam sitiap rusuk mendarah daging tanpa ada rekonstruksi dasar jaring.

Taring berdrama lencana kibarkan panji seolah tak ada kalah berarti dari luar yang coba eksekusi mati.


Konvensi tetap dijalani pada hari- hari malah sebaliknya berkonspirasi atas rasa kanan diri dengan cara berdemogogi.

Kambing berbulu domba adalah ritual kekal sebagai bekal dalam menjalani inti justifikasi abadi.

Waktu Kian Berdebu

Waktu kian berdebu, kendara keliru dalam deru seakan penghujung tak lagi dalam hitung tak sadar roda kian menggulung tetap di sarung dengan dada membusung.

Keras arus lintas beserta para selaras sampai tuntas melaju berseru bak peluru yang siap memburu yang tak selaku, ah, kau tau itu.

Bunga Pesona Bianglala

Dan yang tak disebutkan namanya mengalir dalam aliran desir- desir pasir, pasir putih bersemilir, bersemilir getir tatkala meskipun ucapan dari bibir tak hadir.

Rangkaian bianglala terpatri dalam tari buat warna hari berjemari merona dalam rias pentas sebatas antara kau dan aku sendiri.

Tangan Sang Altar

Dan di saat akhirnya sekutu dekatmu miliki otot atas sebab beriring para dedengkot yang bersorot, ia jelma sebagai urat berakar yang siap antarkan oksigen segar terkesan benar, yakin tertanam dan telah terjalin.

Bak ulat dengan gelagat jilat kedok semburat tanpa noda ketika dedengkot hadir menyapa, tampak surga di muka.

Sais Tragis

Kelat pahit dirasa, kau coba terka dari cuapan bibir praduga seakan dari sisi gelap garis ada yang mengiris.

Kau coba menyaring tiap tepung, apa dirasa kasar mengapung atau memasang lindung, ya, kau memang nyaris tampak begitu miris.


Dan yang tak di samping , kau rasa itu tak penting, menggenggam tali di depan garis kau adalah sais tragis.

Temuan kelam hampa, hanya sekapur sirih entah nyata atau bualan belaka kau mulai unjuk pinggang cabut keris.