Dan yang tak disebutkan namanya mengalir dalam aliran desir- desir pasir, pasir putih bersemilir, bersemilir getir tatkala meskipun ucapan dari bibir tak hadir.
Rangkaian bianglala terpatri dalam tari buat warna hari berjemari merona dalam rias pentas sebatas antara kau dan aku sendiri.
Serpihan sejuta serakan atas kenangan retak kesan terganti dapatkan jalan seolah hilang ketika alasan senyuman ditemukan, kanvas kuas di tangan siap goreskan warna- warna pesona menawan.
Rasa menyatu dalam sua mengangkasa telusur alur nuansa berirama di sisipan doa, ya, berharapan sua tulus dari dasar jiwa ketika ruang dan masa berdinding singkirkan keinginan untuk bersanding.
Kini hanya suara dan warna menyapa, di hari depan jadi harapan tempat ukiran jumpa sebagai pelengkap iringan bianglala, lalu seakan- akanlah sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar