Kau coba menyaring tiap tepung, apa dirasa kasar mengapung atau memasang lindung, ya, kau memang nyaris tampak begitu miris.
Dan yang tak di samping , kau rasa itu tak penting, menggenggam tali di depan garis kau adalah sais tragis.
Temuan kelam hampa, hanya sekapur sirih entah nyata atau bualan belaka kau mulai unjuk pinggang cabut keris.
Dan akhirnya dunia tua berhujan tangis berlumur sadis beredar dalam orbit di adil dalam posisi tak manis, tertulis menuju hari habis tak selamanya kau sais.
Di sampingmu kan digaji dengan kritis sebagaimana kisah dibalas dengan otomatis, dan itu bukan bisnis.
Sisik seiring waktu kian memudar dan kau sadar 'kan tercium bau amis tapi apa daya kau tak mampu, tetap bertahan dan remis meski terkikis.
%2B(2).jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar